Beranda / Ekonomi / Akhirnya, Indonesia Resmi Resesi!

Akhirnya, Indonesia Resmi Resesi!

Diterbitkan pada 09 Nov 2020 oleh: Redaksi

Akhirnya, Indonesia Resmi Resesi!

Bagikan di Facebook Twitter


Perekonomian Indonesia resmi masuk jurang resesi pada kuartal III-2020. Hal ini ditunjukkan dai realisasi laju perekonomian pada kuartal III tercatat kembali minus, yakni 3,49 persen setelah sebelumnya sempat terperosok cukup dalam, yakni sebesar 5,32 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menjelaskan, kontraksi perekonomian terjadi lantaran baik dari sisi permintaan maupun penawaran barang dan jasa masih mengalami penurunan.

Sebagai contoh, pada kuartal III tahun ini masih terjadi penurunan tingkat produksi mobil hingga 68,47 persen, meski di sisi lain terjadi peningkatan produksi jika dihitung secara kuartalan, yakni sebesar 172,78 persen.

Kemudian, dari sisi permintaan, penjualan mobil terjadi peningkatan hingga 362,17 persen jika dibandingkan dengan kuartal II lalu. Meski begitu, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah penjualan mobil di kuartal III tahun ini masih merosot 59,30 persen.

Untuk penjualan sepeda motor sepanjang kuartal III juga mengalami fenomena yang sama, naik 190,75 persen secara kuartalan, namun year on year (perbandingan tahunan) masih turun 46,14 persen.

Bila dilihat dari indikator lain, yakni produksi semen mengalami peningkatan 42,09 persen menjadi 18,01 juta ton pada kuartal III tahun ini. Produksi semen merupakan indikator yang menunjukkan pergerakan sektor konstruksi. Meski demikian, bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai tersebut masih menurun 8,57 persen.

Kinerja sektor pariwisata pun belum pulih secara penuh. Jumlah wisatawan mancanegara pada kuartal III hanya sebanyak 474.062 kunjungan. Jumlah tersebut bahkan menurun 1,25 persen dibanding kuartal II. Sementara jika dibandingkan tahun sebelumnya, kontraksi terjadi lebih dalam yakni 89,18 persen.

"Dampaknya tentu ke sektor-sektor pendukung pariwisata seperti tingkat okupansi hotel, restoran, industri makanan minuman, serta industri ekonomi kreatif," jelas Suhariyanto.


Bagikan di Facebook Twitter