Beranda / Bisnis / Usai Libur Panjang, IHSG Diprediksi Melemah

Usai Libur Panjang, IHSG Diprediksi Melemah

Diterbitkan pada 02 Nov 2020 oleh: Redaksi

Usai Libur Panjang, IHSG Diprediksi Melemah

Bagikan di Facebook Twitter


Paska libur panjang kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksikan terkonsolidasi melemah di sepanjang minggu ini. Pergerakan indeks di pasar modal setelah libur panjang berpeluang melakukan penyesuaian terhadap pasar luar negeri yang cenderung terkoreksi.

"IHSG berpeluang konsolidasi melemah di pekan ini dengan support di level 5.095 sampai 5.000 dan resistance di level 5.182 sampai 5.200," papar Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, ada berbagai sentimen yang membayangi pergerakan pasar saham, di antaranya pelaku pasar yang menunggu pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 dan lanjutan laba perusahaan. Selain itu, naiknya kasus Covid-19 menjadi tekanan bagi pasar saham dunia.

Hans menjelaskan, peningkatan kasus Covid-19 menjadi berita utama beberapa minggu terakhir. Peningkatan kasus Covid-19 telah mendorong Jerman dan Prancis mengumumkan pembatasan di sektor bisnis. Prancis mewajibkan warga tinggal di rumah mulai Jumat. Sementara itu, Jerman akan menutup bar, restoran, dan teater mulai 2 November hingga akhir bulan.

"Peningkatan kasus Covid-19 yang diikuti langkah penguncian akan sangat mengganggu pemulihan ekonomi dan berpotensi mendorong pasar keuangan terkoreksi. Terlihat pasar Amerika dan Eropa rata-rata tertekan turun dalam sepekan akibat berita ini," jelasnya.

Di sisi lain, lanjut Hans, laporan Produk Domestik Bruto Amerika kuartal ketiga naik secara tahunan sebesar 33,1 persen, atau menjadi pertumbuhan tercepat yang pernah ada sejak pemerintah mulai mencatatnya pada 1947. Kenaikan ini, terjadi setelah penurunan 31,4 persen pada kuartal kedua.

Pertumbuhan ini juga lebih baik dari ekspektasi sejumlah ekonom yang disurvei Dow Jones, yakni 32 persen. Pemulihan ekonomi yang ditunjukkan pertumbuhan PDB setelah penguncian dicabut lebih baik dari yang di perkirakan sebelumnya.

Hans mengatakan, banyak negara mengalami kasus yang mirip di mana terjadi pemulihan ekonomi yang cepat setelah pembukaan lockdown akibat Covid-19. Tetapi kebangkitan dan ancaman wave ke-2 Covid-19 menimbulkan kekhawatiran ekonomi kembali tertekan.

Pelaku pasar juga, kata Hans, melihat laporan keuangan kuartal III dari perusahaan-perusahaan. Data dari Refinitiv menunjukkan sekitar 260 perusahaan dari dalam Indeks S&P 500 telah melaporkan kinerjanya pada kuartal ketiga.

Ia menjelaskan, ada 85 persen perusahaan melaporkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan. Dia menduga hal serupa juga akan terjadi di emiten BEI karena penerapan PSBB transisi mendorong ekonomi naik. Tetapi, sebagian saham mulai terkoreksi lebih disebabkan aksi ambil untung dan ancaman gelombang kedua Covid-19 serta langkah yang diambil banyak Negara dengan melakukan penguncian kembali.

Sentimen lain yang diperhatikan pelaku pasar pada pekan ini adalah hasil pemilu Amerika Serikat pada 3 November 2020. Berdasarkan hasil survei Reuters, tutur Hans, saat ini elektabilitas kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden di atas Presiden Donald Trump secara nasional sebesar 10 persen.

Tetapi, papar Hans, masih ada persaingan di sejumlah negara bagian yang diperkirakan akan menentukan hasil akhir siapa yang terpilih. Hal ini ditambah pengalaman empat tahun lalu di mana jajak pendapat serupa tidak memprediksi kemenangan Trump.

"Ada potensi pertarungan hukum antara Partai Republik dan Demokrat tentang cara menghitung suara telah meningkatkan risiko perdebatan akan hasil pemilu. Hal ini merupakan faktor negatif bagi pasar keuangan,"urainya.


Bagikan di Facebook Twitter