Beranda / Nasional / UMKM Harus Berorientasi Ekspor di Masa Pandemi

UMKM Harus Berorientasi Ekspor di Masa Pandemi

Diterbitkan pada 16 Sep 2020 oleh: Redaksi

UMKM Harus Berorientasi Ekspor di Masa Pandemi

Bagikan di Facebook Twitter


Pemerintah berupaya membantu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk berorientasi ekspor agar bisa bertahan di masa pandemi Covid-19. Hal tersebut dilakukan dengan cara pembiayaan kredit modal kerja atau reinvestasi pelatihan dan pembinaan seperti Program Penugasan Khusus Ekspor dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).

"Kami berharap LPEI sebagai pelaksana harus selalu kreatif, inovatif membantu ekspor UMKM untuk bisa meng-cover UMKM, mencakup UMKM terdampak, melakukan koordinasi yang baik dengan seluruh stakeholder aktif, melakukan pembinaan dan pelatihan UMKM yang memiliki potensi ekspor,” papar Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (Dirjen PPR) Kemenkeu Luky Alfirman dapat acara webinar "Dukungan Terhadap Usaha Kecil dan Menengah Berorientasi Ekspor".

Tujuannya, lanjut Lucky, untuk membantu UKM yang berorientasi ekspor mendapatkan kredit modal kerja ataupun reinvestasi agar mampu meningkatkan daya saing dalam percaturan industri internasional maupun nasional.

Melalui LPEI, pemerintah memberi penugasan khusus untuk meningkatkan ekspor UMKM. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, Perindustrian, Kemenparekraf, KemenkopUMK, meluncurkan program penugasan khusus secara formal dengan menerbitkan KMK 372/KMK.08/2020 tentang Penugasan Khusus kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam rangka Mendukung sektor UMKM berorientasi Ekspor.

Program yang dilaksanakan LPEI ini memiliki beberapa kriteria. Pertama, UMKM memiliki usaha produktif yang berorientasi ekspor baik langsung maupun tidak langsung. Kedua, UMKM minimal menjalankan usaha 2 tahun. Ketiga, UKM Dimiliki WNI. Keempat, kolektibilitas lancar. Kelima, tidak sedang dalam proses klaim atau utang atau suborgasi. Keenam, melaksanakan kegiatan usahanya dalam negeri. Ketujuh, memiliki fasilitas jaringan produksi dengan produk standar ekspor.

Selanjutnya, persyaratan dari sisi plafonnya ada dua yaitu untuk usaha kecil sebesar Rp500 juta-  Rp2 miliar dan untuk usaha menengah sebesar Rp2 miliar-Rp15 miliar. Tenor kredit maksimal 5 tahun untuk kredit investasi, sedangkan untuk kredit modal kerja maksimal 3 tahun.


Bagikan di Facebook Twitter