Loading...

Pertumbuhan Ekonomi RI Diramal Melemah, Airlangga Andalkan 5 Stimulus

Pertumbuhan Ekonomi RI Diramal Melemah, Airlangga Andalkan 5 Stimulus

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan tanggapan atas proyeksi terbaru dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), yang merevisi turun perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen di tahun 2025 dan 4,8 persen pada tahun 2026.

Menanggapi hal tersebut, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan mengarahkan fokus pada upaya menjaga daya beli masyarakat guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ke depan, fokus kita adalah memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga agar pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan. Salah satu langkahnya adalah peluncuran lima stimulus ekonomi yang diharapkan mampu menjaga keberlangsungan industri padat karya,” ungkap Airlangga saat konferensi pers mengenai kesiapan Indonesia menuju keanggotaan OECD dalam forum Ministerial Council Meeting OECD yang digelar secara virtual dari Jakarta, Rabu.

Lima stimulus yang dimaksud meliputi potongan harga untuk transportasi umum, diskon tarif tol, peningkatan bantuan sosial dan pangan, subsidi gaji, serta perpanjangan diskon iuran untuk program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

Ia menambahkan bahwa kebijakan serupa juga diambil oleh sejumlah negara anggota OECD lainnya yang sedang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga konsumsi domestik.

“Kami juga memantau langkah-langkah dari negara-negara OECD lainnya. Sebagian besar negara tersebut juga meluncurkan paket-paket kebijakan guna mempertahankan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tekanan,” tuturnya.

Lebih jauh, Airlangga menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi bukan hanya dirasakan Indonesia, namun merupakan fenomena global, yang dipicu oleh kebijakan perdagangan Amerika Serikat serta pengetatan kondisi keuangan dunia.

“Dalam diskusi dengan Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, disampaikan bahwa perdagangan global pun terdampak karena adanya perang tarif atau tarif resiprokal yang diberlakukan oleh AS. Akibatnya, beberapa negara diperkirakan akan mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 0,5 hingga 0,7 persen,” paparnya.

Sebagaimana tercantum dalam laporan Economic Outlook terbaru, OECD memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan menurun dari 3,3 persen pada tahun 2024 menjadi 2,9 persen untuk tahun 2025 dan 2026.

Tekanan utama yang memengaruhi prediksi ini berasal dari menurunnya kepercayaan pasar, berbagai hambatan dalam perdagangan internasional, serta tingginya suku bunga pinjaman, yang berdampak negatif terhadap konsumsi dan investasi di berbagai negara.