Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mencurigai adanya pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang berupaya mengacaukan data distribusi beras nasional. Ia menduga kelompok mafia pangan tengah memanfaatkan situasi untuk menggoyahkan proses ketahanan serta program swasembada pangan nasional.
“Kasus ini sedang ditangani oleh Satgas Pangan. Kami mengingatkan agar tidak bermain-main dengan nasib para petani dan konsumen,” ujar Amran saat menghadiri pemotongan hewan kurban dalam rangka Idul Adha 1446 Hijriah di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi internal, ada dugaan bahwa sejumlah oknum berupaya mempengaruhi opini masyarakat dengan menyampaikan data seolah-olah pasokan beras minim, padahal sebenarnya stok sangat mencukupi.
“Saat ini stok beras kita berlimpah, tetapi ada pihak yang mencoba memanipulasi data agar terlihat seakan-akan ada kekurangan. Padahal kenyataannya justru sebaliknya,” tegasnya.
Amran menjelaskan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog telah menembus angka lebih dari 4 juta ton. Ini merupakan jumlah tertinggi dalam kurun waktu 57 tahun terakhir di Indonesia.
Dengan pencapaian tersebut, ia optimistis target swasembada beras yang semula ditetapkan pada tahun keempat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bisa dicapai lebih awal, yakni di tahun ketiga.
Menanggapi isu terkait gangguan cuaca yang diklaim sebagai penyebab berkurangnya pasokan beras, Amran menyatakan bahwa informasi tersebut telah dikaji dan terbukti tidak akurat oleh Satgas Pangan.
“Setelah ditelusuri, data menunjukkan bahwa dugaan anomali iklim itu tidak benar. Bahkan pihak yang menyampaikan informasi tersebut telah menyampaikan permohonan maaf kepada Satgas. Namun saya menolak begitu saja. Harus ditindaklanjuti! Ini tidak bisa dibiarkan karena sudah berulang kali terjadi,” jelasnya.
Meskipun demikian, Amran belum bersedia mengungkap identitas para pihak yang ditengarai terlibat dalam praktik manipulasi tersebut.
“Kalau seolah-olah stok kita kurang, pasti solusinya impor. Padahal, bisa saja stok kita sebenarnya cukup. Kalau terus-menerus impor, petani kita yang jadi korban karena kehilangan semangat untuk berproduksi. Jangan sampai itu terjadi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini pemerintah, melalui Presiden Prabowo, telah memberikan banyak kemudahan bagi petani, seperti bantuan pupuk dan pembelian hasil panen langsung dari petani. Oleh karena itu, ia mengingatkan semua pihak agar tidak merugikan petani yang merupakan tulang punggung bangsa.
“Jika negara ingin kuat, maka perkuatlah petani kita. Jumlah petani, baik dari sektor pangan, hortikultura, perkebunan, hingga peternakan, mencapai sekitar 150 juta orang. Jika mereka diberdayakan, saya yakin negara ini akan makin kokoh,” ujarnya penuh semangat.
Amran juga menyinggung soal kejanggalan data distribusi beras yang terjadi di Gudang Beras Cipinang pada Mei 2025. Dalam temuan tersebut, tercatat pengeluaran beras mencapai 11 ribu ton dalam satu hari—angka yang jauh melampaui rata-rata normal harian yang biasanya hanya berkisar 1.000 hingga 3.500 ton.
“Data dari Cipinang menunjukkan kejanggalan. Selama lima tahun terakhir, tidak pernah ada distribusi harian sebesar itu. Ini tidak lazim dan perlu ditelusuri lebih lanjut,” ujarnya penuh tanda tanya.