Beranda / Ekonomi / Kebijakan Pemulihan Ekonomi Utamakan Aspek Kesehatan

Kebijakan Pemulihan Ekonomi Utamakan Aspek Kesehatan

Diterbitkan pada 20 Jul 2020 oleh: Redaksi

ilustrasi (pixabay)

Bagikan di Facebook Twitter


Kebijakan penanggulanan pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi  harus berjalan secara efektif dan saling beriringan.  Pasalnya, penyebaran virus corona ini telah menyebabkan aktivitas usaha terhenti dan berefek pada keadaan sosial ekonomi masyarakat.

Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa dan SDA, Kemenko Perekonomian, Raden Edi Prio Pambudi, mengatakan, aspek kesehatan menjadi hal yang harus paling diutamakan untuk menetapkan sembilan sektor ekonomi. Maka perhitungan risiko kesehatan menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan.

Menurut Edi, perlu mengambil perhitungan risiko dengan cara mengumpulkan data, lalu dilihat aspek kesehatan dan aspek sosial ekonomi. Kedua hal itu harus dipertimbangkan, bahkan faktor kedisiplinan pada sektor kesehatan yang lebih penting diutamakan.

“Kunci keberhasilan pembukaan kembali sembilan sektor guna pemulihan ekonomi di tengah pandemi ini adalah perubahan perilaku masyarakat,” kata Edi di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, beberapa waktu lalu.

Edi menjelaskan, bila masyarakat disiplin menerapkan protokol kesehatan, akan berdampak positif dan memberi keuntungan bagi para pelaku sektor ekonomi. Sebaliknya, bila masyarakat tidak disiplin justru akan menimbulkan kerugian yang besar.

“Seorang atau sekelompok orang yang tak disiplin akan menyebabkan sektor atau area tersebut diperketat kembali. Artinya, perilaku sekelompok kecil masyarakat bisa merugikan masyarakat lebih luas,” papar Edi.

Karena itu, pembukaan sektor ekonomi pada masa pandemi ini, dalam pelaksanaannya tidak

kemudian mengubah jenis usaha dari segi konvensional menjadi modern serta pemanfaatan atau penerapan teknologi, akan tetapi perubahan perilaku adaptif masyarakat.

Maka tak semata-mata memindahkan dari segi konvensional menjadi berbasis teknologi. Namun, juga harus melihat perubahan perilaku masyarakat. Perubahan perilaku yang adaptif  ini diharapkan dapat mengajak orang lain untuk disiplin dan mematuhi protokol kesehatan.

Edi menjelaskan, masyarakat harus waspada jangan sampai membuat kerugian lebih besar karena hal kecil. Pasalnya, pembukaan kembali sektor ekonomi dan sosial merupakan kebijakan jalan tengah. Misal, bila seseorang abai dan tak patuh dengan protokol kesehatan, justru bisa mngakibatkan orang lain terinfeksi atau tertular virus corona ini.

Di satu sisi, jangan sampai kasus meningkat terus. Namun di sisi lain bagaimana bisa secepatnya kondisi ekonomi pulih kembali. Karena itu, syarat utamanya adalah penerapan protokol  

kesehatan dan disiplin untuk menggerakkan roda ekonomi sesuai anjuran pemerintah, sehingga tidak menyebabkan kerugian baru, terutama dari sektor kesehatan.


Bagikan di Facebook Twitter